1 Oktober 2016 Workshop Series #2 ‘Team’ – TDA Kediri Forum
September 8, 2016
2 Oktober 2016 Training & Entertainment ‘Jejak Jejak Hijrah’ – Amazing Muharram #5
September 10, 2016

Inspirasi Branding Perusahaan Keluarga dari IBF (Indonesian Brand Forum) 2016

ibf-2016Jangan meremehkan bisnis keluarga. Nyatanya lebih dari 95 persen perusahaan di Indonesia adalah perusahaan keluarga dengan omset sekitar USD5-10 juta (PWC, 2014). Total kekayaan mencapai US$134 miliar atau sekitar 25% dari PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia. Dan sekitar 40.000 orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan keluarga.

Ditemui dalam acara Indonesia Brand Forum (IBF) 2016 di Grand Hyatt Jakarta, 24 Agustus 2016, Yuswohady, pakar branding Indonesia, mengemukakan bahwa perusahaan keluarga yang ada di Indonesia memiliki peran dan kontribusi yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia. Jika disertai dengan brand yang kuat, perusahaan-perusahaan tersebut bahkan bisa membawa nama Indonesia ke kancah internasional. Itu sebabnya Program Director IBF tersebut mengangkat “Branding Family Business for The Nation : Lestari dari Generasi ke Generasi” sebagai tema konferensi IBF tahun ini.

Hadir dalam konferensi IBF 2016 sebagai narasumber talkshow adalah para founder, direktur dan CEO dari perusahaan-perusahaan keluarga yang telah berhasil diwariskan sampai generasi kedua bahkan ketiga. Ada Ivan Kamadjaya, CEO Kamadjaya Logistic, Bani Maulana Mulia, Director Samudra Indonesia, Iwan Kurniawan, Vice President Sritex dan Dewi Muliaty, CEO Prodia. Benang merah dari kesuksesan kempat perusahaan tersebut adalah adanya core-value yang telah ditanamkan oleh founder dan terjaga dengan baik hingga lintas generasi.

Berbeda dari tiga tokoh yang disebut lebih dahulu, Dewi Muliaty bukanlah bagian dari keluarga perintis Prodia, melainkan professional murni yang bekerja sebagai CEO. Wanita yang sudah bekerja sejak lulus kuliah di salah satu perusahaan jaringan laboratorium terbesar di Indonesia ini bertugas menjaga nilai- nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para founder yang kini telah berusia 70-80 tahun. Selain itu ia juga harus menjaga agar team work perusahaan yang 80% pekerjanya wanita tersebut dapat berjalan dengan selaras.

Dalam sesi berikutnya ditampilkan tujuh orang narasumber founder bisnis sekaligus menjaga warisan budaya dan sumber daya alam Indonesia. Helianti Hilman “Javara” terinspirasi oleh mbah Suko, seorang petani renta yang pernah dipenjara di masa lalu karena memperjuangkan benih padi lokal. I Gede Surya Atmaja yang menciptakan karya seni bernilai tinggi dari koin lawas khas Bali. Tuhar founder Daya Sindoro yang berhasil membawa kopi khas Temanggung hingga diekspor ke manca negara. Ni Kadek Eka yang mempopulerkan perawatan tubuh tradisional wanita Bali dengan brand Bali Alus.

Tampil pula para desainer muda yang mengharumkan nama Indonesia di dunia mode internasional. Adalah Didiet Maulana founder IKAT Indonesia yang menjadikan kain ikat lebih trendi dan diterima di kalangan muda. Patrick Owen, sang desainer muda yang menembus pasar internasional dengan brand namanya sendiri. Juga tak ketinggalan Rafi A. Ridwan, desainer belia berusia 14 tahun yang meskipun tuna rungu namun mampu membawa brand fashionnya sampai dikenakan oleh super model Tyra Banks dan Michelle Obama.

Para narasumber di atas memiliki cita-cita tinggi, keuletan dan tekad kuat untuk menggapainya. Meskipun sempat mengalami banyak kendala, namun mereka terus berjuang dan memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar. Tak salah jika pada perhelatan IBF ini mereka dijuluki “Seven Entrepreneur Heroes”.

Mengembangkan dan meneruskan bisnis keluarga dari generasi ke generasi bukanlah perkara mudah. Ada ungkapan “generasi pertama menciptakan, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan”. Perpindahan tangan dari satu generasi ke generasi berikutnya tak jarang menjadi sulit karena perbedaan pandangan atau perubahan zaman. Alih generasi sebuah perusahaan keluarga pun ternyata tidak selalu dilanjutkan oleh anggota keluarga sang founder. Beberapa perusahaan keluarga menyewa professional untuk duduk sebagai direktur atau CEO.

Pada sesi talkshow ketiga dan keempat, ditampilkan generasi penerus beberapa perusahaan keluarga yang telah berhasil dikembangkan dengan brand kuat. Pengembangan brand usaha bisa dilakukan dengan transformasi organisasi. Seperti yang dilakukan oleh JNE. Awalnya perusahaan jasa pengiriman ini lebih dikenal sebagai Tiki-JNE. Ketika hendak dikembangkan, masuklah Johari Zein sebagai “orang luar” dari perusahaan yang kemudian membuat konsep baru hingga menjadi JNE saat ini.

Untuk melestarikan brand yang sudah kuat, sebuah perusahaan perlu pula menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ini seperti yang dilakukan oleh Kawan Lama Group. Teresa Wibowo, sang cucu founder, awalnya tidak berminat meneruskan usaha keluarganya. Sempat bekerja di perusahaan advertising selama beberapa tahun, ia kemudian diingatkan untuk melanjutkan roda bisnis keluarga.

Teresa pun membuat terobosan berupa toko online untuk produk-produk keluaran Kawan Lama. Sejalan dengan semangat HUT Kemerdekaan RI ke-71, IBF tahun ini diharapkan bisa membangkitkan semangat perusahaan keluarga di Indonesia dalam membangun corporate brand agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi pemain global yang disegani.

ibf-1-2016

X